Meski Kecil, bukan berarti tidak Perlu Strategi
Pasti kita semua sering mendengar cerita tentang semut
mengalahkan gajah. Juga dalam permainan suit, jari kelingking yang di
analogikan semut pasti menang bila bertemu dengan Ibu Jari yang analogikan
Gajah. Loh kok bisa, katanya sih karena semut bisa masuk dalam telinga si gajah
dan menggigit gendang telinga si gajah sampai minta ampun karena kesakitan J.
Jadi menurut saya, apapun itu jangan selalu dilihat
berdasarkan ukuran apalagi dalam sebuah usaha atau bisnis. Meskipun usaha kita
termasuk usaha kerocoan dengan modal dan pemasukan yang hanya untuk menyambung
hidup dari hari ke hari pengggunakan strategi jangan di anggap sebelah mata. Meskipun ada usaha saingan dengan modal yang
lebih besar, jangan terlalu cepat berkecil hati. Saya sadar di negara kita ada
sebuah paradigma yang sampai saat ini masih terasa yaitu Ilmu manajemen atau
bisnis merupakan sebuah “hal yang keramat” untuk sebuah usaha kecil, mikro dan
menengah. Bahkan ada yang berkata, “ah tidak usah pake begitu usaha ku jalan ji
juga, na sa bisa ji juga beli mobil” hahahaha..iya..anggapan bahwa mereka
adalah penjual sekaligus praktisi yang lebih mengetahui segala hal tentang bisnis
dengan pengalaman sebagai guru terbesar mereka, sehingga akademisi yang hanya
mempelajarinya di atas kertas di anggap hanya bermulut besar yang hanya pintar
berteori.
Tapi bagaimanakah jika kedua keahlian tersebut digabungkan,
para pengusaha UKM di Negara Kita Indonesia atau lebih khusus lagi di Kota
tercinta Kendari yang kenyang pahit manis nya dunia usaha dapat dengan mudah
berinteraksi dengan ilmu bisnis. Maka mimpi saya untuk melihat Kendari yang
awalnya kota yang identik dengan PNS, menjadi sarang bagi para entrepreneur.
“FROM BUREUCRACY CITY, TO THE CENTER OF BUSSINES AREA”.
Kebetulan di tangan saya ada 2 buku terkait strategi dalam
menjual om dan tante sekalian. Yang pertama adalah buku manajemen strategis nya
J. David Hunger dan Thomas L. Wheelen yang memaparkan salah satu tulisannya
michael porter dalam strategi bisnis, dalam tulisannya porter mengemukakan
bahwa :
·
Jika pasar yang kita layani Besar atau dengan kata lain konsumen nya banyak, kita dapat
menerapkan,
a.
Kepemimpinan
Biaya, dimana kita punya fasilitas yang mendukung efisiensi waktu dan
tenaga, pengurangan harga dan pengurangan biaya-biaya. Sehingga kita dapat
menawarkan harga yang murah, jadi meskipun keuntungan atau margin yang kita
peroleh untuk tiap unitnya tipis namun karena konsumen yang banyak. laba yang
akan kita peroleh akan memuaskan.
b.
Differensiasi
(Pembedaan) , dengan menciptakan sebuah jasa atau produk yang unik seperti
citra rancangan, teknologi yang berbeda, ciri khas, jaringan kerja penyalur
atau layanan konsumen. Jika kita telah berhasil dengan pembedaan tersebut maka
kita dapat menentukan harga yang layak dengan keuntungan per unit yang
memuaskan karena kita akan mendapatkan beberapa bahkan banyak konsumen yang
loyal terhadap produk kita.
·
Jika pasar yang kita layani kecil atau dengan
kata lain konsumen nya sedikit, hal yang
dapat kita lakukan adalah,
a.
Fokus
Biaya, adalah mengabaikan yang lain yang belum jelas dengan melayani
kelompok-kelompok pembeli tertentu. Ini didasarkan keyakinan bahwa perusahaan
yang mengkonsentrasikan biaya dan upaya lainnya kepada sesuatu yang lebih
sempit akan lebih efisien. Hal ini seperti jika kuliah beban SKS nya 24 yang
selesai malah tidak sampe separuhnya, waktu diberi beban 12 SKS eh malas dapat
A semua, hehehe.
b.
Fokus
Differensiasi, hampir sama dengan fokus biaya tetap berkonsentrasi pada
kelompok pembeli. Namun menurut porter target sasaran harus memiliki salah satu
yaitu “melayani pembeli dengan kebutuhan yang tidak lazim atau cara produksi
dan penyaluran yang berbeda dengan yang lain”. Seperti rokok “Sampoerna Hijau”
yang membidik pemuda ndeso atau koboi kampung sebagai konsumen utamanya, jadi
baik dari segi iklannya, rasa dan penyalurannya sangat mengarah kekampung’an,
hehehe.
Yang satu lagi bukunya Om Hermawan Kartajaya dkk dengan
tulisan depan Possitioning, Differentiation, Brand. Pria jangkung ini menekankan bahwa dalam berusaha sejatinya kita semua
adalah sebuah brand atau merek. Meskipun usaha kita adalah jasa cukur, tetap
kita akan mempunyai nama jasa cukur tersebut dan memperjuangkannya agar
memenangi persaingan. Untuk itu hal-hal yang penting menurutnya dalam buku ini
adalah :
a.
Possitioning, yaitu dalam berusaha kita seharusnya memberikan janji awal kepada
konsumen, bahwa seperti apa usaha kita
dalam melayani mereka. Setelah menentukan target konsumen, kita perlu
menjelaskan secara detail sebagai apa kita, seperti apa nilai yang didapatkan konsumen ketika membeli
produk kita. Seperti ketika XO Famili Karaoke Kendari yang memposisikan diri
mereka sebagai tempat karaoke untuk keluarga dengan fasilitas yang pro
nilai-nilai kekeluargaan jelas berbeda dengan tempat karaoke lain nya yang
kemudian, passssss. Sukses.
b.
Differentiation, setelah kita berjanji akan sebuah hal yang
menggembirakan kepada konsumen karena nilai yang kita tawarkan, differensiasi
ini akan membantu usaha anda dalam membangun keterikatan konsumen terhadap
produk anda. Differensiasi adalah bagaimana kita memenuhi janji kepada
konsumen. Pemenuhan janji itu dapat kita lakukan dengan memberikan perbedaan
kualitas, layanan, cara pendistribusian, teknologi yang di gunakan dalam penawaran
produk atau jasa kita dengan pesaing. Di Kendari Excelco cafe dapat dengan
leluasa memberikan harga premium/cukup mahal untuk secangkir kopi, teh dan
lainnya yang direspon baik oleh pasar karena kesanggupan mereka dalam
menawarkan suasana lain dalam menikmati kopi, cara mereka melayani, dan desain
interior yang mewah. Janji mereka untuk memberikan suasana mewah dalam
menikmati waktu santai di pusat kota dapat di tepati dengan baik.
c.
Brand, kedua hal tersebut di atas
adalah hal yang kita lakukan untuk membangun Brand atau merek meskipun kedua hal tersebut bukanlah satu-satunya
cara. Dalam bahasa tradisionalnya, merek adalah dapat berarti sebuah nama, logo
atau berbagai simbol lainnya untuk sebuah produk atau jasa. Namun, dalam buku
ini lebih di artikan sebagai “Value
Indicator” yaitu suatu ukuran yang menggambarkan seberapa kokoh dan
solidnya nilai yang anda tawarkan ke pelanggan. Ingatlah ketika membeli sebuah
motor, mengapakah ada yang membeli Yamaha, banyak yang mengatakan karena
jaminan kualitasnya, harga jual kembali yang tinggi dan onderdil tidak mahal.
Itulah nilai yang dimaksud. Adapula yang begitu greget membeli Honda dan suzuki
atau bahkan Kawasaki Ninja. Padahal, sama-sama motor..Na sampe ji juga di
tempat tujuan.
Kemudian, HK mengemukakan Inti dari kedua buku tersebut
adalah untuk berhasil dalam bisnis bagaimana kita membedakan diri kita dengan
para pesaing dengan memahami keberadaan kita yang hakiki, seperti sebuah pohon
pisang meskipun tidak seindah bunga mawar tapi semua orang tahu bahwa selain
memiliki buah yang enak seluruh bagian pohon pisang juga memiliki kegunaan yang
bagus untuk manusia dan yang menjadi sifat spesial pohon pisang dan kemudian
dijadikan salah satu falsafah yaitu sifat “pantang mati sebelum berbuah”.
Bahkan kuman sekalipun dalam dunia ini memiliki peran tersendiri yang cukup
penting J.
GANBATTE KUDASAI!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
anda sopan kami santai