Kamis, 03 Januari 2013

Pengabdian adalah profesionalitas


hinduismedila.blogspot.com

“Manusia adalah manusia karena ia mampu mengekang diri, itupun sejauh ia berikhtiar”.

Itulah yang dikatakan Mahatma Gadhi dalam otobiografi nya. Seorang tokoh dunia yang mengabdikan separuh hidup nya untuk kebenaran. Kata-kata itu ditulisnya di sela-sela kegalauannya ketika menjadi anggota di sebuah corpse ambulance pada perang Boer, corpse tersebut bertugas untuk merawat kaum “pemberontak” Zulu .

Dalam pikirannya bahwa tugas tersebut memerlukan sebuah komitmen yang sangat tinggi agar pekerjaan tersebut menyatu dengan nurani karena mengingat medan yang begitu sulit dan orang Zulu konon adalah bangsa yang tidak memiliki adab, maka  waktu itu menurutnya solusi yang paling tepat adalah melaksanakan sumpah Brahmacharyaa yaitu secara teknis dapat diartikan sebagai sebuah pengekangan diri terhadap nafsu atau secara harfiahnya adalah sebbuah tingkah laku yang menuntun seseorang kepada tuhan, sehingga selanjutnya pelaksanaan prinsip tersebut mengisi seluruh aspek kehidupan Gandhi.

Baginya, pengekangan terhadap nafsu lahiriah manusia akan membawa dampak yang sangat baik bagi sebuah pengabdian. Pada zaman sekarang mungkin lebih mirip dengan etika profesi. Sesungguhnya bagi manusia apapun pekerjaan kita, baik itu swasta ataupun pegawai negeri adalah sebuah pengabdian. Pengabdian terhadap hakikat kita sebagai manusia. Toyotomi hideyoshi sang TAIKO pemersatu jepang di jaman sengoku mengatakan bahwa “bekerja adalah hakikat manusia dan makanan itu pemberian surga”. Dengan prinsip itu ia yang hanya seorang anak petani miskin bertubuh pendek jelek tampa keahlian beladiri berhasil menjadi pemimpin tertinggi jepang dimasa bergejolak.

Harus di akui, entah kenapa bahwa etos kerja di Negara Indonesia khusus nya di daerah kita Sulawesi Tenggara terbilang rendah. Dikatakan rendah karena dengan sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk yang cukup padat dan umur sebuah bangsa yang mencapai setengah abad lebih, begitu banyak fakta-fakta di berbagai bidang-bidang kehidupan membuat miris entah itu melihat realita maupun angka. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian insentif disebuah instansi pemerintah tidak berdampak signifikan terhadap efektifitas kinerja atau dalam banyak kasus, bahwa beberapa karyawan lebih mengejar bonus ketimbang prestise.

Banyak yang masih keliru memaknai sebuah pengabdian, pengabdian hanya diidentikan dengan profesi lampau seperti guru, pekerja amal dan profesi lain yang tidak memiliki aspek finansial. Sesungguhnya, pengabdian yang hakiki adalah pengabdian kepada diri kita sendiri, sebuah sikap totalitas terhadap kodrat kita sebagai manusia yang diberikan oleh tuhan, kodrat untuk menyinari alam semesta dengan pikiran dan perbuatan  yang terpuji dan bermanfaat. Meskipun anda seorang supervisor disebuah perusahaan retail, seorang manajer produksi di sebuah industry otomotif, dan walaupun hanya seorang staf biasa yang diberikan balas jasa atas tenaga yang anda berikan, itu juga merupakan pengabdian jika anda memang meniatkannya.

Niat untuk mencurahkan segala kemampuan terbaik untuk mencapai hasil yang memuaskan dengan mencintai apa yang kita lakukan dan mensyukurinya, mengekang diri terhadap nafsu lain yang dapat memudarkan nilai  totalitas ati kita, Sesungguhnya kita sedang mengabdi pada hati kita. Itulah profesionalitas. Mudah-mudahan dengan pengabdian yang tulus terhadap apa yang kita kerjakan saat ini, bangsa kita akan semakin baik dan bermartabat.