hinduismedila.blogspot.com
“Manusia
adalah manusia karena ia mampu mengekang diri, itupun sejauh ia berikhtiar”.
Itulah
yang dikatakan Mahatma Gadhi dalam otobiografi nya. Seorang tokoh dunia yang
mengabdikan separuh hidup nya untuk kebenaran. Kata-kata itu ditulisnya di
sela-sela kegalauannya ketika menjadi anggota di sebuah corpse ambulance pada
perang Boer, corpse tersebut bertugas
untuk merawat kaum “pemberontak” Zulu .
Dalam
pikirannya bahwa tugas tersebut memerlukan sebuah komitmen yang sangat tinggi
agar pekerjaan tersebut menyatu dengan nurani karena mengingat medan yang
begitu sulit dan orang Zulu konon
adalah bangsa yang tidak memiliki adab, maka waktu itu menurutnya solusi yang paling tepat
adalah melaksanakan sumpah Brahmacharyaa yaitu
secara teknis dapat diartikan sebagai sebuah pengekangan diri terhadap nafsu
atau secara harfiahnya adalah sebbuah tingkah laku yang menuntun seseorang
kepada tuhan, sehingga selanjutnya pelaksanaan prinsip tersebut mengisi seluruh
aspek kehidupan Gandhi.
Baginya,
pengekangan terhadap nafsu lahiriah manusia akan membawa dampak yang sangat
baik bagi sebuah pengabdian. Pada zaman sekarang mungkin lebih mirip dengan
etika profesi. Sesungguhnya bagi manusia apapun pekerjaan kita, baik itu swasta
ataupun pegawai negeri adalah sebuah pengabdian. Pengabdian terhadap hakikat
kita sebagai manusia. Toyotomi hideyoshi sang TAIKO pemersatu jepang di jaman
sengoku mengatakan bahwa “bekerja adalah hakikat manusia dan makanan itu
pemberian surga”. Dengan prinsip itu ia yang hanya seorang anak petani miskin
bertubuh pendek jelek tampa keahlian beladiri berhasil menjadi pemimpin
tertinggi jepang dimasa bergejolak.
Harus
di akui, entah kenapa bahwa etos kerja di Negara Indonesia khusus nya di daerah
kita Sulawesi Tenggara terbilang rendah. Dikatakan rendah karena dengan sumber
daya alam yang melimpah, jumlah penduduk yang cukup padat dan umur sebuah bangsa
yang mencapai setengah abad lebih, begitu banyak fakta-fakta di berbagai
bidang-bidang kehidupan membuat miris entah itu melihat realita maupun angka.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian insentif disebuah instansi
pemerintah tidak berdampak signifikan terhadap efektifitas kinerja atau dalam banyak
kasus, bahwa beberapa karyawan lebih mengejar bonus ketimbang prestise.
Banyak
yang masih keliru memaknai sebuah pengabdian, pengabdian hanya diidentikan
dengan profesi lampau seperti guru, pekerja amal dan profesi lain yang tidak
memiliki aspek finansial. Sesungguhnya, pengabdian yang hakiki adalah
pengabdian kepada diri kita sendiri, sebuah sikap totalitas terhadap kodrat
kita sebagai manusia yang diberikan oleh tuhan, kodrat untuk menyinari alam
semesta dengan pikiran dan perbuatan yang
terpuji dan bermanfaat. Meskipun anda seorang supervisor disebuah perusahaan
retail, seorang manajer produksi di sebuah industry otomotif, dan walaupun
hanya seorang staf biasa yang diberikan balas jasa atas tenaga yang anda
berikan, itu juga merupakan pengabdian jika anda memang meniatkannya.
Niat
untuk mencurahkan segala kemampuan terbaik untuk mencapai hasil yang memuaskan
dengan mencintai apa yang kita lakukan dan mensyukurinya, mengekang diri terhadap nafsu lain yang dapat memudarkan nilai totalitas ati kita, Sesungguhnya kita
sedang mengabdi pada hati kita. Itulah profesionalitas. Mudah-mudahan dengan
pengabdian yang tulus terhadap apa yang kita kerjakan saat ini, bangsa kita
akan semakin baik dan bermartabat.
