Senin, 14 Mei 2012


Meski Kecil, bukan berarti tidak Perlu Strategi

Pasti kita semua sering mendengar cerita tentang semut mengalahkan gajah. Juga dalam permainan suit, jari kelingking yang di analogikan semut pasti menang bila bertemu dengan Ibu Jari yang analogikan Gajah. Loh kok bisa, katanya sih karena semut bisa masuk dalam telinga si gajah dan menggigit gendang telinga si gajah sampai minta ampun karena kesakitan J.
Jadi menurut saya, apapun itu jangan selalu dilihat berdasarkan ukuran apalagi dalam sebuah usaha atau bisnis. Meskipun usaha kita termasuk usaha kerocoan dengan modal dan pemasukan yang hanya untuk menyambung hidup dari hari ke hari pengggunakan strategi jangan di anggap sebelah mata.  Meskipun ada usaha saingan dengan modal yang lebih besar, jangan terlalu cepat berkecil hati. Saya sadar di negara kita ada sebuah paradigma yang sampai saat ini masih terasa yaitu Ilmu manajemen atau bisnis merupakan sebuah “hal yang keramat” untuk sebuah usaha kecil, mikro dan menengah. Bahkan ada yang berkata, “ah tidak usah pake begitu usaha ku jalan ji juga, na sa bisa ji juga beli mobil” hahahaha..iya..anggapan bahwa mereka adalah penjual sekaligus praktisi yang lebih mengetahui segala hal tentang bisnis dengan pengalaman sebagai guru terbesar mereka, sehingga akademisi yang hanya mempelajarinya di atas kertas di anggap hanya bermulut besar yang hanya pintar berteori.
Tapi bagaimanakah jika kedua keahlian tersebut digabungkan, para pengusaha UKM di Negara Kita Indonesia atau lebih khusus lagi di Kota tercinta Kendari yang kenyang pahit manis nya dunia usaha dapat dengan mudah berinteraksi dengan ilmu bisnis. Maka mimpi saya untuk melihat Kendari yang awalnya kota yang identik dengan PNS, menjadi sarang bagi para entrepreneur. “FROM BUREUCRACY CITY, TO THE CENTER OF BUSSINES AREA”.
Kebetulan di tangan saya ada 2 buku terkait strategi dalam menjual om dan tante sekalian. Yang pertama adalah buku manajemen strategis nya J. David Hunger dan Thomas L. Wheelen yang memaparkan salah satu tulisannya michael porter dalam strategi bisnis, dalam tulisannya porter mengemukakan bahwa :
·         Jika pasar yang kita layani Besar atau dengan kata lain konsumen nya banyak, kita dapat menerapkan,
a.       Kepemimpinan Biaya, dimana kita punya fasilitas yang mendukung efisiensi waktu dan tenaga, pengurangan harga dan pengurangan biaya-biaya. Sehingga kita dapat menawarkan harga yang murah, jadi meskipun keuntungan atau margin yang kita peroleh untuk tiap unitnya tipis namun karena konsumen yang banyak. laba yang akan kita peroleh akan memuaskan.
b.      Differensiasi (Pembedaan) , dengan menciptakan sebuah jasa atau produk yang unik seperti citra rancangan, teknologi yang berbeda, ciri khas, jaringan kerja penyalur atau layanan konsumen. Jika kita telah berhasil dengan pembedaan tersebut maka kita dapat menentukan harga yang layak dengan keuntungan per unit yang memuaskan karena kita akan mendapatkan beberapa bahkan banyak konsumen yang loyal terhadap produk kita.
·         Jika pasar yang kita layani kecil atau dengan kata lain konsumen nya sedikit, hal yang  dapat kita lakukan adalah,
a.       Fokus Biaya, adalah mengabaikan yang lain yang belum jelas dengan melayani kelompok-kelompok pembeli tertentu. Ini didasarkan keyakinan bahwa perusahaan yang mengkonsentrasikan biaya dan upaya lainnya kepada sesuatu yang lebih sempit akan lebih efisien. Hal ini seperti jika kuliah beban SKS nya 24 yang selesai malah tidak sampe separuhnya, waktu diberi beban 12 SKS eh malas dapat A semua, hehehe.
b.      Fokus Differensiasi, hampir sama dengan fokus biaya tetap berkonsentrasi pada kelompok pembeli. Namun menurut porter target sasaran harus memiliki salah satu yaitu “melayani pembeli dengan kebutuhan yang tidak lazim atau cara produksi dan penyaluran yang berbeda dengan yang lain”. Seperti rokok “Sampoerna Hijau” yang membidik pemuda ndeso atau koboi kampung sebagai konsumen utamanya, jadi baik dari segi iklannya, rasa dan penyalurannya sangat mengarah kekampung’an, hehehe.

Yang satu lagi bukunya Om Hermawan Kartajaya dkk dengan tulisan depan Possitioning, Differentiation, Brand. Pria jangkung ini menekankan bahwa dalam berusaha sejatinya kita semua adalah sebuah brand atau merek. Meskipun usaha kita adalah jasa cukur, tetap kita akan mempunyai nama jasa cukur tersebut dan memperjuangkannya agar memenangi persaingan. Untuk itu hal-hal yang penting menurutnya dalam buku ini adalah :
a.       Possitioning, yaitu dalam berusaha kita seharusnya memberikan janji awal kepada konsumen, bahwa seperti apa usaha kita  dalam melayani mereka. Setelah menentukan target konsumen, kita perlu menjelaskan secara detail sebagai apa kita, seperti apa  nilai yang didapatkan konsumen ketika membeli produk kita. Seperti ketika XO Famili Karaoke Kendari yang memposisikan diri mereka sebagai tempat karaoke untuk keluarga dengan fasilitas yang pro nilai-nilai kekeluargaan jelas berbeda dengan tempat karaoke lain nya yang kemudian, passssss. Sukses.
b.      Differentiation,  setelah kita berjanji akan sebuah hal yang menggembirakan kepada konsumen karena nilai yang kita tawarkan, differensiasi ini akan membantu usaha anda dalam membangun keterikatan konsumen terhadap produk anda. Differensiasi adalah bagaimana kita memenuhi janji kepada konsumen. Pemenuhan janji itu dapat kita lakukan dengan memberikan perbedaan kualitas, layanan, cara pendistribusian, teknologi yang di gunakan dalam penawaran produk atau jasa kita dengan pesaing. Di Kendari Excelco cafe dapat dengan leluasa memberikan harga premium/cukup mahal untuk secangkir kopi, teh dan lainnya yang direspon baik oleh pasar karena kesanggupan mereka dalam menawarkan suasana lain dalam menikmati kopi, cara mereka melayani, dan desain interior yang mewah. Janji mereka untuk memberikan suasana mewah dalam menikmati waktu santai di pusat kota dapat di tepati dengan baik.
c.       Brand, kedua hal tersebut di atas adalah hal yang kita lakukan untuk membangun Brand atau merek meskipun kedua hal tersebut bukanlah satu-satunya cara. Dalam bahasa tradisionalnya, merek adalah dapat berarti sebuah nama, logo atau berbagai simbol lainnya untuk sebuah produk atau jasa. Namun, dalam buku ini lebih di artikan sebagai “Value Indicator” yaitu suatu ukuran yang menggambarkan seberapa kokoh dan solidnya nilai yang anda tawarkan ke pelanggan. Ingatlah ketika membeli sebuah motor, mengapakah ada yang membeli Yamaha, banyak yang mengatakan karena jaminan kualitasnya, harga jual kembali yang tinggi dan onderdil tidak mahal. Itulah nilai yang dimaksud. Adapula yang begitu greget membeli Honda dan suzuki atau bahkan Kawasaki Ninja. Padahal, sama-sama motor..Na sampe ji juga di tempat tujuan.
Kemudian, HK mengemukakan Inti dari kedua buku tersebut adalah untuk berhasil dalam bisnis bagaimana kita membedakan diri kita dengan para pesaing dengan memahami keberadaan kita yang hakiki, seperti sebuah pohon pisang meskipun tidak seindah bunga mawar tapi semua orang tahu bahwa selain memiliki buah yang enak seluruh bagian pohon pisang juga memiliki kegunaan yang bagus untuk manusia dan yang menjadi sifat spesial pohon pisang dan kemudian dijadikan salah satu falsafah yaitu sifat “pantang mati sebelum berbuah”. Bahkan kuman sekalipun dalam dunia ini memiliki peran tersendiri yang cukup penting J.

GANBATTE KUDASAI!!