Artikel kali ini
sedikit berbeda, merupakan campuran dari curhat dan sharing. Saya pikir harus
menulisnya karena jikalau ini berhasil akan mempunyai dua manfaat, yang pertama
bagi diri sendiri sebagai dokumentasi kesuksesan dan bagi yang lain sebagai bahan
referensi khususnya dalam merintis sebuah usaha kecil dengan mimpi yang besar,
namun yang sedikit membuat malu adalah tulisan ini merupakan bagian dari
kegalauan seorang yang sedang mencari jatidiri dan yang sedang mempertaruhkan keyakinan
prinsipnya, ilmunya.
Saya juga sedang
mempertaruhkan tabungan yang sebenarnya sangat sedikit untuk membuat usaha kecil
yang diharapkan untuk menjadi besar. Saya ingin dan sedang membuka sebuah booth
alumunium ukuran kurang lebih 4,5 M3 yang menjajakan aneka kue dan
gorengan dan saya yakin (mudah-mudahan tidak berlebihan) akan memenangkan
persaingan di antara competitor gorengan lainnya dan akan menjadi brand makanan
yang franchise nya akan di beli (*asiikkk). Di akhir tahun 2013 ini, saya
menargetkan akan memiliki 3 buah booth yang tersebar di Kota Kendari.
Saya mengatakan
demikian karena menurut prinsip keilmuan saya (marketing) saya melihat peluang,
yaitu penjual kue dan gorengan di Kota Kendari ini banyak, namun hanya ada beberapa
saja yang menggunakan merek. Pengguna merek mayoritas itu sudah dalam skala
besar dengan tempat jualan yang sangat
premium dan harga yang tentunya mahal, namun lagi ada kekurangan dalam
mengelola merek karena mungkin merek bukan objek pokok yang ingin dikembangkan.
Inilah misi saya
kawan-kawan, dengar kan baik-baik…..
Pertama Saya
akan memberi arahan kepada manajer produksi saya (Ibu saya) untuk membuat kue
dan gorengan yang kedaerahan, unik, dan kualitas bagus dan diantaranya sampai
saat ini sudah coba saya jajakan yaitu Korket Kentang (best seller), lumpiah,
Kandoang, tahu isi dan creps. Dengan alasan bahwa sebelum ini saya telah
melakukan analisis pesaing dan mendapati salah satu grobak gorengan terlaris
itu hanya menawarkan kue yang hambar dengan mencoba mengandalkan ukuran dan
harga yang dimiliki pun relatif.
Kedua, saya akan
memasang merek dan menyulap booth (grobak) saya seperti ala-ala booth franchise
untuk membuat nya tampak berbeda dari yang lain (differentiation). Untuk
menjaga citranya dan terus membedakannya, saya akan memperhatikan mulai dari
kebersihan booth, menggunakan atribut khusus (saat ini saya sering menggunakan
jaket merah dan topi merah jika menjual), sampai pelayanannya.
Ketiga, jangan
lupa promosi. Karena usaha ini kecil saya menyesuaikan budget promo agar bisa
lebih efektif dan efisien. Media nya yang pertama adalah lewat selembaran dan
yang kedua adalah lewat jejaring social di internet. Mengingat media yang satu
ini adalah media yang paling jago untuk memicu aktivitas work of mouth konsumen.
Meskipun, banyak
mengalami tantangan dan kesulitan, namun saya selalu berusaha untuk
menyemangati diri saya, bahwa sesuatu yang sukar itu memang dieperuntukkan buat
lelaki sebagai sarana dalam menguatkan dirinya.
Cerita
selanjutnya tentang strategi Segmentation,
Targetting and Possitioning jualan saya. Oke, sementara saya berjuang,
teman-teman yang mendoakan yah..:D. kalo sukses kita bagi bersama, ceritanya
saya bagi ke kalian, keuntungannya buat saya…hahahah





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
anda sopan kami santai